Fasilitas produksi

gambar 1 dengan owner 

Fasilitas produksi yang digunakan dalam budi daya udang galah terdiri dari fasilitas utama dan fasilitas pendukung. Jenis fasilitas, ukuran, dan kontruksinya disesuaikan dengan tahapan kegiatannya. Sementara itu, jumlahnya disesuai dengan skala produksi.
Fasilitas utama budi daya udang galah tediri dari bangsal benih, kolam induk, kolam pemijahan, tempat penetasan, kolam pentokolan, kolam pendederan, dan kolam pembesaran. Sementara itu, fasilitas pendukung meliputi tempat penampungan air, rumah karyawan, kantor, ruang pertemuan, gudang, dan laboratorium. Semua fasilitas tidak perlu dibangun dengan biaya mahal, yang penting kontruksinya memenuhi persyaratan teknis.

Untuk menjamin kebersihan udang galah, diperlukan pengelolaan biosekuritas. Pengelolaan ini meliputi pengaturan tata letak setiap fasilitas, pengaturan akses masuk lokasi, sterilisasi wadah, peralatan, sanitasi lingkungan pembenihan, dan pengelolaan limbah air budi daya. Tata letak fasilitas udang galah harus mengikuti aturan berikut.


  1. Pengaturan tata letak harus berdasarkan alur produksi secara berurutan, dari sub-unit pengelolaan air sumber, karantina, pemijahan, penetasan telur, pemeliharaan larva, penyediaan pakan hidup artemia, penyediaan pakan buatan larva, pemeliharaan juvenil, hingga pemanenan benih. 
  2. Pemagaran lingkungan di sekitar bangsal benih (hatchery), seperti kolam pemeliharaan induk, dan penyekatan antara area sub-unit produksi harus dilakukan. 
  3. Pakan, bahan kimia, dan obat-obatan disimpan dalam fasilitas yang terpisah, bersih, dan siap pakai sesuai dengan peruntukannya.


A. Bangsal Benih

Bangsal benih (indoor hatchery) adalah tempat memproduksi benih udang mulai dari pemijahan sampai menghasilkan larva. Bangsal benih sering juga digunakan tempat penampungan benih sebelum dipasarkan. Di beberapa daerah, bangsal benih dijadikan sebagai gudang atau tempat menyimpan bahan, terutama pakan tambahan dan peralatan, sekaligus kantor.

gambar 2
Pada bangsal benih, hampir semua parameter kualitas air dapat diatur sesuai dengan keinginan. Karena sebuah bangsal benih yang baik memiliki peralatan yang lengkap, dari alat pengukur suhu ruangan, alat pengukur suhu air, pemanas ruangan, pemanas air, alat penambah oksigen (aerator), hingga peralatan penting lainnya. Dengan keadaan ini, kematian benih dapat ditekan serendah mungkin dan kelangsungan hidup udang bisa dijamin. Agar bangsal benih dapat berfungsi dengan baik, lahan untuk bangsal benih harus memenuhi persyaratan berikut. Dekat dengan sumber air laut. Untuk memenuhi

1. persyaratan ini, bangsal benih harus dibangun di pinggir pantai. Dekat dengan sumber air tawar. Sebaiknya, memiliki

2. sumber air sendiri. Sumber air dapat berasal dari sungai, irigasi, atau sumur. Letak sumber airnya lebih tinggi daripada lokasi

3. bangsal benih sehingga air lebih mudah dialirkan ke bangsal benih, kecuali bila menggunakan pompa air. Kuantitas airnya cukup agar kegiatannya dapat

4. berjalan secara kontinu. Kualitas airnya memenuhi persyaratan, seperti jernih,

5. kandungan oksigennya tinggi, dan tidak mengandung unsur-unsur yang membahayakan ikan. Letaknya dekat dengan areal perkolaman terutama

6. dekat dengan kolam induk, sehingga keperluan induk dengan cepat dan mudah dipenuhi. Keamanannya terjamin.

7. Dekat dengan jalan dan tranportasinya lancar

8. sehingga memudahkan pengadaan alat dan sarana yang dibutuhkan maupun pemasaran hasil produksi.

Bangsal benih dapat dibuat secara permanen, semi permanen, atau sederhana, tergantung pada skala usaha dan dana yang tersedia. Bangsal benih permanen dibuat dari tembok. Bangsal benih semi permanen dibuat dari perpaduan sebagian tembok dan sebagian bambu atau bilik yang rapat. Sementara itu, bangsal benih sederhana dibuat dari bilik, tetapi dindingnya harus rapat.

Karena bangsal benih bersifat multifungsi, di dalamnya harus memiliki fasilitas yang lengkap agar bisa berfungsi sebagaimana mestinya. Fasilitas penting yang harus ada dalam sebuah bangsal benih udang galah meliputi bak filter, tandon, tempat pemberokan, tempat penetasan telur, tempat pemeliharaan larva, dan tempat kultur pakan alami.

a. Bak Filter

Air yang masuk ke dalam indoor hatchery sebaiknya dialirkan mengandalkan gravitasi sehingga penggunaan dan pengaturan air akan lebih leluasa tanpa bergantung pada pompa. Karena itu, sebelum air dari sumber digunakan di dalam hatchery sebaiknya air tersebut ditampung terlebih dahulu di dalam bak penampungan air. Apabila sumber air berasal dari sungai atau irigasi, sebaiknya gunakan bak filter untuk menyaring partikel partikel lumpur yang terbawa aliran air.

Mengingat debit air yang dipergunakan di dalam hatchery tidak terlalu besar, bila menggunakan pipa pemasukan berukuran 3—4 inci, cukup gunakan bak filter berukuran 3 x 1 x 1 meter. Konstruksi dalam bak filter terdiri dari dinding penyekat yang berjarak masing-masing sekitar 60 cm dan dibuat secara zig-zag.

Lubang pemasukan air pada dinding pertama dibuat di dasar dinding di sisi yang berlawanan dengan pintu pemasukan utama mengunakan 2 buah pipa pralon ukuran 3—4 inci. Tujuannya, agar air mengalir secara lambat. Pipa kedua diletakkan di bagian atas dinding dengan ketinggian 70 cm dari dasar bak, dinding ketiga dibuat di bagian dasar seperti dinding pertama, dan begitu seterusnya sampai dinding penyekat terakhir.

Sebagai penyaring, pada sekat pertama dan kedua digunakan batu pecah atau pecahan batu bata merah yang berukuran besar. Sekat ke-3 dan ke-4 menggunakan bahan filter dari batu kerikil, sekat ke-5 menggunakan pasir kasar, dan sekat terakhir menggunakan pasir atau zeolit yang halus. Dengan konstruksi zig-zag seperti ini, diharapkan partikel-partikel lumpur yang dibawa oleh aliran air akan mengendap di setiap sekat, sehingga air yang disaring menjadi bersih dan bening.

b. Tandon

Tandon sangat penting dalam penyediaan air selama masa pemeliharaan udang galah, terutama masa pembenihan. Ada dua buah tandon dalam bangsal benih udang galah, yaitu tandon air tawar dan tandon air laut. Agar air mudah dialirkan dari setiap tandon, letak tandon harus lebih lebih tinggi daripada tempat pemeliharaan. Tandon harus dibuat dari tembok atau beton agar tidak mudah rusak dan kokoh dengan bentuk empat persegi panjang atau bulat.

Ukuran tandon disesuaikan dengan besarnya bangsal benih. Untuk bangsal benih skala kecil dengan produksinya 200.000 ekor benih setiap periode, bak tandon ini cukup dibuat dengan ukuran 2 x 2 x 1 meter. Sementara itu, untuk bangsal benih skala besar dengan produksi satu juta benih setiap periode, bak tandon ini harus lebih luas, yaitu berukuran 5 x 4 x 1 meter.
Dalam pemeliharaan larva, tidak boleh menggunakan air baru sehingga air budi daya harus diolah terlebih dahulu di bak tandon dan perlu disesuaikan dengan kebutuhan terhadap air. Agar tidak kekurangan air, ukuran bak tandon disesuaikan dengan produksi yang ingin dicapai.
tandon-gambar 3
Selain untuk menampung dan mengolah air, bak tandon juga digunakan untuk mencampur air laut dan tawar untuk mendapatkan salinitas yang diinginkan. Air payau biasa digunakan untuk penetasan dan pembiakan artemia. Karena itu, bak tandon ini dihubungkan langsung ke sumber air tawar dan air laut menggunakan paralon yang ukurannya disesuaikan dengan besarnya debit air. Selain itu, pada bagian lain dihubungkan ke masing-masing bak yang ada di bangsal benih. Pada bak tandon ini juga harus dibuat lubang pengeluaran untuk mengeringkan atau menguras bila sudah lama digunakan.

c. Bak Pemberokan 

Bak pemberokan merupakan tempat untuk menyimpan induk udang galah matang gonad yang berasal dari bak pemeliharaan hingga induk tersebut siap dipijahkan. Bak ini dapat pula dikatakan sebagai tempat untuk mengadaptasikan induk-induk dari kolam yang lingkungannya lebih luas ke tempat pemijahan yang lebih sempit.

gambar 4
Bentuk bak pemberokan bisa bermacam-macam, tergantung dari keadaan tempat. Namun, bentuk yang paling baik adalah yang berbentuk segi empat atau persegi panjang. Bak ini sebaiknya tidak terlalu besar karena bisa menyulitkan proses menangkap indukan yang akan dipijah. Ukuran bak pemberokan tergantung jumlah induk yang diberok, minimum berukuran 5 m x 3 m x 80 cm. Jumlah ideal untuk induk dalam satu meter persegi kolam adalah 10 ekor indukan. Jumlah bak pemberokan minimum 2 buah, yaitu satu untuk induk jantan dan satu lagi untuk induk betina. 

Untuk memudahkan proses pengisian dan pem buangan air, bak pemberokan dilengkapi dengan pipa pemasukan dan lubang pembuangan. Pipa pemasukan air dihubungkan dengan tandon. Lubang pembuangan dibuat di bagian tepi salah satu pematangnya. Pipa pemasukan bisa dibuat dari pipa paralon berdiameter 1—1,5 inci yang dilengkapi dengan keran untuk mengatur debit air yang masuk dalam bak. 

Pintu pengeluaran juga dibuat dari paralon berdiameter 2 inci. Ukuran paralon pengeluaran yang lebih besar bertujuan agar bak dapat dikeringkan dengan cepat. Pada pintu pengeluaran, umumnya dipasang keni sebagai tempat memasukkan paralon pengatur tinggi air. Hal lain yang paling penting pada bak pemberokan ini adalah kondisi airnya. Air yang masuk ke dalam bak pemberokan harus kontinu, bersih, dan tidak mengandung zat makanan.

d. Bak Pemijahan 

Bak pemijahan merupakan tempat untuk memijahkan induk jantan dan induk betina. Bentuknya bisa empat persegi panjang berukuran 15 m2 (5 m x 3 m x 80 cm). Sama seperti bak pemberokan, bak pemijahan juga dilengkap dengan pipa pemasukan dan lubang pembuangan. Jumlah bak pemijahan yang disiapkan tergantung kebutuhan. 

e. Bak Penetasan Telur 

Bak penetasantelur merupakan wadah untuk menampung induk betina yang sudah berisi telur atau yang diambil dari bak pemijahan. Bak ini bisa dibuat dari beton dan berbentuk bulat dengan diameter 2 m dan tinggi 0,5 m. Bak ini bisa juga dibuat dari bahan fiberglass, dengan diameter 1,5 dan tinggi 0,5 m. Jumlah bak tergantung pada skala produksi. Tempat penetasan telur dilengkapi dengan alat pengatur suhu air (heater) dan aerator.

gambar 5 penetasan telur
f. Wadah Pemeliharaan

Larva Wadah ini digunakan untuk memelihara larva yang berasal dari tempat penetasan telur hingga menjadi udang galah muda atau juvenil. Sama seperti bak penetasan telur, wadah ini juga dapat dibuat dari beton dan fiberglass dengan bentuk bulat atau kotak. Namun, volumenya lebih kecil, yakni 1,5 m3. Wadah ini juga dipasang heater dan aerator. Jumlah wadah pemeliharaan larva tergantung pada skala produksi.

gambar 5 wadah
g. Kantor dan Gudang 

Kantor merupakan ruangan yang digunakan untuk manajemen kepegawaian, tata usaha, tempat transaksi, dan tempat menerima tamu. Sementara itu, gudang didirikan untuk menyimpan alat dan sarana produksi yang penting, seperti pakan, pupuk, dan berbagai peralatan lainnya. Gudang dan kantor ini dapat dibuat secara berdampingan. Ukurannya masing-masing 3 x 3 m. Tempatnya bisa dibuat di depan atau di belakang bangsal benih.

h. Jaringan Listrik

Pastikan lokasi budi daya memiliki jaringan listrik. Pasalnya, aliran listrik diperlukan dalam kegiatan pembenihan, seperti memberi penerangan, menggerakkan pompa air, dan menggerakkan high blower atau aerator untuk menyuplai oksigen yang terlarut ke dalam air. Selain jaringan listrik dari luar, sebaiknya sediakan pula genset untuk menjaga kemungkinan aliran listrik padam.

i. Aerator

Untuk menambah oksigen, setiap wadah pemeliharaan larva, hapa penetasan telur, dan bak pedederan harus dilengkapi dengan blower atau aerator. Untuk menyalurkan udara dari blower ke setiap wadah dilakukan menggunakan slang kecil (slang aerasi) yang setiap ujungnya dilengkapi dengan batu aerasi. Blower atau aerator tersebut banyak dijual di toko-toko peralatan perikanan atau penjual ikan hias.

B. Kolam Induk

Kolam induk adalah tempat Dok. Penulis memelihara induk atau calon induk selama proses matang gonad. Kolam induk udang galah sebaiknya dibuat dua buah, satu untuk induk jantan dan satu lagi untuk induk betina. Jika lahannya terbatas, kolam induk bisa dibuat hanya satu. Namun, bila disatukan, biasanya akan terjadi pemijahan dalam waktu yang belum dikehendaki.

Dinding kolam induk udang galah sebaiknya dibuat dari beton atau tembok agar tidak mudah rusak dan tahan lama. Sementara itu, dasar kolam indukan tetap dari tanah. Dinding atau pematang kolam bisa juga dari tanah, asalkan benar-benar kuat. Agar mudah dikeringkan saat seleksi induk, ukuran kolam indukan jangan terlalu besar, maksimum 300 m2.

Seperti kolam lainnya, kolam indukan juga dilengkapi dengan lubang pemasukan dan pengeluaran air. Tujuannya untuk memudahkan pengairan kolam sehingga kualitas air tetap terjaga. Keadaan dasar kolam harus melandai ke lubang pengeluaran air, agar pengeringan kolam lebih mudah.

C. Bak Pendederan

Bak pendederan merupakan wadah untuk memelihara benih yang dipindahkan dari bangsal benih atau berumur sekitar 30 hari hingga siap dipelihara di kolam pentokolan. Bak pendederan berfungsi sebagai wadah adaptasi benih, dari kondisi terkontrol di bangsal benih (hatchery) ke kondisi lingkungan luar. Karena itu, bak pendederan harus ditempatkan ditempat terbuka atau di luar ruangan. Bakterbuat dari beton, berbentuk persegi panjang, dan berukuran 5—15 m3, dilengkapi dengan pipa pemasukan dan pengeluaran.

D. Kolam Pentokolan

Kolam pentokolan merupakan tempat untuk memelihara benih yang dipindahkan dari kolam pendederan atau berumur sekitar 7—14 hari hingga benih siap dipelihara di kolam pembesaran. Kolam pentokolan udang galah terdiri dari dua buah, yaitu kolam pentokolan pertama dan kolam pentokolan kedua. Dua kolam ini digunakan untuk mencegah kanibalisme akibat pertumbuhan benih yang tidak seragam.

Kolam pentokolan sebaiknya terbuat dari tanah. Pasalnya, pakan alami dapat tumbuh subur di kolam tanah, sehingga pakan benih selalu tersedia dalam waktu yang lebih lama. Tentu saja hal ini akan menjadikan benih dapat tumbuh lebih cepat. Sementara itu, kolam beton kurang subur karena proses penguraian bahan organik kurang sempurna atau hanya di bagian dasar.

Kolam pentokolan udang galah harus lebih luas, yaitu berukuran 250—500 m2. Kolam seluas ini dapat dengan mudah dikelola, dari persiapan sampai panen. Selain itu, kapasitasnya cukup besar untuk memelihara benih. Selain lubang pemasukan dan pengeluaran air, kolam harus dilengkapi dengan kamalir agar memudahkan dalam pemanenan benih. Kamalir merupakan saluran yang berada di tengah atau pinggir permukaan kolam untuk memudahkan pemanenan.

E. Kolam Pembesaran

Kolam pembesaran adalah tempat untuk memelihara udang galah yang dipindah dari kolam pentokolan atau udang galah berukuran 30—35 gram (1 kg berisi 30 ekor). Di kolam pembesaran, udang galah dipelihara hingga mencapai ukuran konsumsi. Kolam pembesaran bisa dibuat dari tembok atau tanah, yang penting kokoh dan tidak bocor. Adapun jumlahnya tergantung pada skala produksi. Kolam ini juga dilengkapi dengan kamalir serta saluran pemasukan dan pembuangan air.

Sumber : Untung 100% dari Budi Daya Udang Galah