Mengapa milih udang galah?

gambar 

Setiap hewan memiliki ciri-ciri khusus, termasuk tingkah laku dan sifat biologisnya. Ciri-ciri dan sifat-sifat biologis itulah yang membedakan antara hewan yang satu dengan yang lainnya. Demikian juga dengan udang bercapit besar ini.

A. Klasifikasi 


Secara ilmiah, Macrobrachium rosenbergii de Man mempunyai beberapa persamaan nama atau sinonim. Holthuis, peneliti di bidang perikanan, mengungkapkan enam sinonim, yaitu Palaemon carcinus rosenbergii (Ort-mann), Palaemon whitei Sharp, Palaemon (Eupalaemon) rosenbergii Nobili, Palaemon spinipes Schenkel, Palemon dacqueti Sunier, dan Cryphiops (Macrobrachium) rosenbergii Johnson. Namun, Pennak, peneliti di bidang perikanan dengan jelas mengungkapkan klasifikasi udang galah sebagai berikut.

gambar 1

B. Ciri fisik


Seperti spesies udang lainnya, udang galah pun berbadan panjang. Keadaan ini dapat dilihat dari perbandingan panjang badan dan tinggi badan utuh (tanpa kaki renang dan kaki jalan) dengan ratio 5 : 1. Tubuhnya sendiri terbagi menjadi tiga bagian, yaitu bagian kepala, abdomen, dan ekor. Setiap bagian tubuh tersebut dilengkapi dengan berbagai anggota tubuh.

a. Kepala


Bagian kepala udang galah. Memiliki rostrum, antena, kaki jalan, mata dan cephalothorax.

Rostrum 

Pada bagian kepala terdepan terdapat rostrum, sebuah anggota tubuh yang berujung tajam dan bergerigi seperti gergaji. Anggota tubuh ini biasa digunakan sebagai senjata untuk menyerang musuh-musuhnya. Menurut Wichins dan Lee, peneliti di bidang perikanan, rostrum udang galah berbeda dengan spesies udang lainnya, yakni panjang dan melengkung ke atas. Rostrum bagian atas memiliki 11—13 gerigi, sedangkan bagian bawah memiliki 8—14 gerigi.

Mata 

Dua pasang mata menempel tepat di bawah rostrum, di bagian kiri dan kanan kepala. Bentuknya bundar seperti kelereng, berukuran kecil, dan berwarna biru. Bila terkena sinar, terutama pada malam hari, matanya akan memantulkan cahaya, sehingga tampak bersinar. Mata udang berada di ujung tangkai yang menempel di bagian kepala. Tangkai inilah yang membuat mata udang tampak agak ke menjorok ke depan.

Kaki Jalan 

Kepala juga dilengkapi dengan lima pasang “kaki jalan” (periopoda). Sesuai dengan namanya, bagian itu berfungsi sebagai alat untuk berjalan atau berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Kaki jalan memiliki ukuran yang cukup panjang dengan lima buah ruas, lengkap dengan sambungannya. Kaki jalan di baris kedua dari depan berukuran lebih panjang dan besar, seperti galah.

Cephalothorax 

Pada bagian kepala juga ada anggota tubuh lain, yaitu cephalothorax. Cephalothorax menutupi seluruh bagian kepala, dari bagian kiri, bagian atas, hingga bagian kanan.

Cephalothorax terbentuk dari kitin (chitine) atau kalsium sehingga sangat keras dan tidak bisa dimakan. Karena itu, cephalothorax dapat berfungsi untuk melindungi tubuh udang dari serangan musuh-musuhnya. Kecuali, setelah ganti kulit (moulting), keadaan berubah menjadi lembek.

Antena 

Anggota tubuh lain dari kepala adalah antena. Bentuk antena udang galah memanjang mirip benang jahit, tetapi ukurannya lebih besar. Jika dilihat lebih dekat, bentuk antena ini mirip pecut, dengan bagian pangkal membesar dan bagian ujung mengecil. Jika antena tersebut diraba, akan terasa kasar. Hal ini wajar karena di dalam antena itu terdapat ruas-ruas yang sangat elastis.

b. Abdomen 


Klopak 

Seluruh bagian abdomen diselimuti oleh lima buah klopak yang membentang dari belakang kepala hingga pangkal ekor. Seperti cephalothorax, klopak juga terbentuk dari chitine dan keadaannya keras dan kaku. Fungsinya juga sama seperti cephalothorax, yaitu untuk melindungi tubuhnya dari serangan musuh-musuh.

Kaki Renang 

Selain klopak, bagian abdomen juga dilengkapi dengan kaki renang (pleiopoda). Tidak seperti kaki jalan, kaki renang lebih pendek dan hanya terdiri dari dua ruas. Pada setiap ujung ruas kaki renang dilengkapi dengan biduk. Biduk inilah yang dijadikan alat untuk mendayung saat berada di dalma hingga tubuhnya bisa berenang untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya.

c. Ekor 

Ada dua anggota tubuh pada ekor yang sangat penting, yaitu telson dan uropoda. Kedua anggota tubuh ini terbentuk dari chitine yang keras. Meski keras, tetapi dapat digerakan dengan mudah. Telson dan uropoda berfungsi hampir sama dengan kaki, yaitu untuk mengatur arah pergerakan tubuh.

gambar 2

C. Habitat dan Penyebaran 

Secara alami, udang galah hidup di air tawar, terutama di perairan umum, seperti rawa, danau, dan perairan tenang lainnya. Ini sesuai sifat biologis dan tingkah lakunya, di mana udang lebih bersifat pasifatau tidak banyak bergerak seperti ikan, termasuk dalam mendapatkan makanan. Tidak hanya di rawa dan danau, udang galah juga sering dtemukan di muara sungai dan bersifat eurihaline atau toleran terhadap salinitas 0—20 ppt. Hal ini berhubungan erat dengan siklus hidupnya. 

Daerah penyebaran udang galah sangat luas. Dimulai dari daratan Indopasifik, yaitu bagian timur Benua Afrika, Malaysia, dan Indonesia. Di Indonesia sendiri udang galah banyak ditemukan di Sumatera, Jawa, Kalimantan, dan Papua. Karena adanya campur tangan manusia dalam penyebarannya, udang galah ditemukan juga di Benua Amerika dan Australia. Sebelumya, di kedua benua itu tidak pernah terdapat udang galah. Walaupun begitu, tidak tertutup kemungkinan adanya cara penyebaran lain selain campur tangan manusia. 

D. Kebiasaan Makan 


Dilihat dari kebiasaan makanan atau disebut pula food habit, udang galah termasuk ke dalam golongan omnivora atau hewan pemakan segala, baik tumbuhan maupun hewan. Tumbuhan yang disukai di antaranya serpihan padi, gandum, buncis, biji-bijian, dan alga. Sementara itu, hewan yang paling disukai di antaranya cacing kecil, siput, kerang tingkat rendah, larva moluska, dan ikan-ikan kecil. Menurut D’ Abramo dan Brunson, peneliti di bidang perikanan, udang galah dapat bersifat kanibal pada saat kekurangan pakan.

Menurut Wichins dan Lee, peneliti di bidang perikanan, saat dibudidayakan, udang galah mengonsumsi baik jasad hewan maupuntumbuhan, seperti, cacing, moluska, krustase, daging dan organ dalam ikan, binatang lain, biji-bijian, beras, gandum, daging kelapa, buah-buahan, dan pellet. Untuk mendeteksi pakan-pakan tersebut, udang galah menggunakan rambut sensor yang berada di kedua pasang kaki jalan.

Menurut Gunadi, peneliti dibidang perikanan, udang galah juga dapat diberi pakan komersial dengan kadar protein minimum 30%. Jumlah pakan yang diberikan sebanyak 10% dari bobot biomassa pada awal pemeliharaan dan menurun hingga 3% pada akhir periode pemeliharaan.

Pemberian pakan dilakukan dengan cara disebar pada caren atau kamalir sebagai ruang hidup udang galah. Dalam satu hari, pakan diberikan 2—3 kali dengan porsi lebih banyak diberikan pada sore hari untuk memberikan kesempatan udang galah mendapatkan pakan yang cukup pada malam hari.

Dilihat dari kebiasaan makannya (feeding habit), udang termasuk “hewan pemakan dasar” karena hewan ini lebih banyak hidup di dasar perairan dibandingkan dengan di permukaan air. Sementara itu, bila dilihat dari sifat makannya, udang galah termasuk hewan yang pasif atau lebih suka menunggu makanannya datang mendekatinya. Hal ini wajar karena udang galah tidak dapat berenang selincah ikan. Meski begitu, udang galah masih bisa menemukan makanan karena di tempat hidupnya selalu tersedia pakan alami.

E. Siklus Hidup dan Perkembangbiakannya 


Seperti hewan lain, udang galah melewati beberapa fase atau siklus kehidupan. Ada lima siklus yang dilewati, yaitu telur, larva, benih, dewasa, dan induk. Setiap siklusnya memakan waktu yang berbeda. Pasalnya, di dalam setiap siklus hidup udang galah terjadi proses pembentukan dan perkembangan organ tubuh dan penambahan panjang, lebar, tinggi, dan bobot tubuh. Siklus ini juga mengubah pola makan dan jenis makanan udang galah.

Telur 

Telur udang galah berbentukbulatlonjong dengandiameter berkisar 0,5—0,7 mm. Telur muda berwarna oranye terang kuning cerah, sedangkan telur yang matang (2—3 hari sebelum menetas) berwarna abu-abu kehitaman.

Perubahan warna telur terjadi seiring perkembangan telur dan persediaan makanan yang digunakan oleh embrio. Berdasarkan penyebaran kuning telurnya, telur udang galah memiliki jenis sel telur teleoletcithal, yaitu kuning telur yang menyebar tidak merata.

gambar 3
Telur mengalami empat tahap pembelahanzigot. Keempat tahapan tersebut di antaranya tahap morula, blastula, gastrula, dan organogenesis. Telur akan menetas menjadi larva pada hari ke-20 dan ke-21. Faktor yang memengaruhi proses penetasan berasal dari faktor internal (volume kuning telur, hormon, enzim, dan ukuran embrio) dan faktor eksternal (suhu, oksigen, dan salinitas). 

Larva 

Larva udang galah yang baru menetas berwarna abu abu kehitaman dan tidak berpigmen. Larva udang galah berukuran sekitar 3 mm dan memiliki alat renang yang belum sempurna. Fase larva memiliki 11 tahapan perkembangan stadia. Larva stadia I dicapai pada umur 1—2 hari setelah menetas. Stadia II dicapai pada umur 3 hari, stadia III pada umur 5 hari, dan stadia IV berumur 9 hari.
Pada stadia IV, udang galah sudah mulai membentuk telson. Pada usia 18 hari, udang galah sudah mencapai stadia VI—IX. Telson lebih menyempit dan pigmentasi mulai merata dengan warna kuning kecokelatan. Pada stadia X—XI, telson semakin menyempit dan memanjang, uropoda lebih berkembang dan lebih panjang daripada telson.

Gerakan utama pada stadia larva adalah berenang mundur dan waktu bergerak lebih lama daripada diam. Larvabersifatfototaksispositifatau merespons terhadap cahaya.
Larva yang baru menetas tersebut masih mengandung kuning telur sebagai sumber makanannya. Karena itu, larva tidak perlu diberi pakan hingga larva berumur tiga hari. Fase ini bisa dibilang paling kritis karena pada tahap ini terjadi proses pembentukan saluran pencernaan dan perubahan sumber pakan dari kuning telur menjadi pakan yang diberikan dari luar. Larva tersebut tidak aktif mencari pakan, tetapi bergerak aktif dengan mulut terbuka. Pada fase ini sering kali terjadi kanibalisme. Pasalnya, jika larva tersebut menyentuh larva atau jenis pakan lainnya, mulutnya akan segera menutup dan menelannya sedikit demi sedikit.

gambar 4
Kanibalisme ini bisa berlangsung terus bila jumlah pakan tidak mencukupi dan larva dalam keadaan sangat lapar. Namun, setelah larva melewati umur 15 hari biasanya tidak dijumpai lagi tingkat kematian yang tinggi akibat kanibalisme. Kendala utama yang dihadapi dalam pemeliharaan larva udang galah adalah perubahan stadia dari fase larva menjadi fase post-larva yang memiliki tingkat mortalitas yang tinggi. Hal yang perlu dilakukan untuk menghadapi kendala tersebut adalah memperhatikan jenis pakan yang diberikan, memberikan pelindung, melakukan penjarangan kepadatan, dan menurunkan salinitas pemeliharaan secara bertahap. 

Udang Galah Muda 

Setelah tahapan larva, tahapan dalam siklus hidup berikutnya adalahtahapan udang galah muda (juvenilatau post-larva). Udang galah muda atau juvenil berada pada media air tawar (salinitas 0 ppt). Pada fase ini udang galah memakan berbagai jenis plankton, zooplankton, cacing sutera, dan berbagai jenis kerang air. Gerakan utama udang galah muda adalah berenang maju dan bersifat menempel di permukaan. Jika dilihat secara morfologis, udang galah juvenil sudah mirip udang dewasa dengan berbagai sifatnya, seperti senang berjalan di dasar sungai dan menjauhi lingkungan air payau menuju ke habitat air tawar. 

Udang galah muda (juvenil) akan terus hidup di habitat air tawar hingga masuk ke fase induk dan mengalami masa reproduksi. Udang galah jantan dan betina yang telah dewasa dan matang gonad akan melakukan pemijahan secara alami. Udang betina yang telah memijah dan memiliki telur yang telah dibuahi oleh jantan akan berupaya kembali ke habitat air payau, yakni menuju muara sungai. Di habitat tersebut, udang betina dewasa akan menetaskan telurnya.

gambar 5
Udang galah muda sudah mirip udang dewasa dan mampu memakan berbagai jenis plankton, zooplankton, dan cacing sutera.

sumber : Untung 100% dari Budi Daya Udang Galah