Sarana Produksi


bapak ketua
Sarana produksi merupakan bahan-bahan yang dibutuhkan dalam proses produksi. Agar proses produksi berjalan sesuai dengan perencanaan, bahan-bahan ini harus tersedia saat dalam jumlah yang cukup dan berkualitas.
A. Induk

Dalam kegiatan budi daya, induk merupakan sarana produksi utama. Karena dari induk-induk tersebut akan diperoleh keturunannya, sebagai sarana produksi utama dalam kegiatan pembesaran. Setiap pembudidaya, khususnya yang bergerak dalam pembenihan sebaiknya memiliki induk sendiri. Dengan demikian, mereka tidak menggantungkan diri kepada pihak lain. Artinya, pembudidaya bisa memproduksi kapan saja dan dapat menentukan skala produksinya sesuai dengan kebutuhannya, tanpa harus menunggu.

Indukan udang galah yang dimiliki harus matang gonad atau matang kelamin sehingga mampu menghasilkan telur bagi betina dan sperma bagi jantan. Dengan memiliki induk sendiri, benih tidak harus membeli. Dengan tidak membeli benih, keuntungan dari benih dapat masuk kantung sendiri. Sementara itu, bila membeli, otomatis keuntungan berkurang dan beban biaya justru bertambah.

Induk udang galah, baik jantan maupun betina, harus jelas asal-usulnya dan berkualitas baik. Karena dari induk induk yang berkualitas baik akan diperoleh benih-benih yang berkualitas baik pula, yaitu benih yang bertubuh normal, dapat tumbuh dengan cepat, sertatahan terhadap perubahan lingkungan dan serangan penyakit.

a. Perbedaan Induk Jantan dan Betina

Jantan dan betina setiap hewan, termasuk udang galah dapat dibedakan dengan jelas. Tentu saja sebelumnya harus dipelajari terlebih dahulu, yaitu dengan melihat tanda-tanda pada tubuhnya. Bagi yang sudah paham, membedakan jantan dan betina tidak harus dari dekat, tetapi dari jauh sudah cukup.

Ciri-ciri Induk Betina


  1. Bentuk tubuh bagian perut melebar dan pleuronnya agak memanjang. 
  2. Alat kelamin terletak pada baris pasangan kaki jalan yang ketiga.
  3. Pasangan kaki jalan pada baris kedua lebih kecil dan tampak mencolok. 


Ciri-ciri Induk Jantan


  1. Bentuk tubuh bagian perut lebih ramping dan ukuran pleuronnya lebih pendek. 
  2. Alat kelamin terletak di pasangan kaki jalan pada baris kelima dan berbentuk tonjolan kecil. 
  3. Bentuk dan ukuran kaki jalan yang kedua sangat mencolok, besar, dan panjang mirip galah.
jantan betina gambar 1
b. Induk yang Berkualitas

Dapat membedakan antara induk jantan dan betina udang galah saja tidaklah cukup bagi seorang pembudidaya. Pasalnya, tidak semua udang galah itu baik untuk dijadikan induk. Induk yang digunakan untuk memproduksi benih udang galah harus memenuhi berbagai persyaratan kualitatif maupun kuantitatif. Berikut berbagai persyaratannya.


  1. Berasal dari hasil perbanyakan induk yang telah melalui tahapan seleksi. Jenis indukan itu bisa diperoleh dari instansi yang melakukan program pengindukkan udang galah, yakni BBPBAT Sukabumi dan BPPI Sukamandi. 
  2. Warna kulit biru kehijauan. 
  3. Organ tubuh lengkap, tidak cacat, dan tidak tampak kelainan bentuk. 
  4. Sehat dan bebas penyakit MrNV ( Macrobrachium rosenbergii Noda Virus). 
  5. Bergerak aktif. 
  6. Berumur minimum 8 bulan. 
  7. Bobot tubuh induk jantan minimum 50 gram dan induk betina 35 gram.
c. Membeli Induk 

Bagi pemula, indukan udang galah tentu harus dibeli dari pihak lain. Namun, membeli induk harus dilakukan secara teliti dan tidak boleh sembarangan, terutama induk yang tidak jelas asal-usulnya. Hal ini dilakukan dengan harapan untuk memperoleh induk berkualitas. Pasalnya, dari induk yang berkualitas akan dihasilkan benih yang berkualitas pula. Benih ini akan menjadi cikal bakal dan juga penerus pada generasi berikutnya. Jika sembarangan membeli induk, tentu kerugian yang akan didapat.



Salah satu sumber induk udang galah yang bisa dipercaya adalah balai-balai penelitian perikanan. Sumber lainnya adalah balai-balai benih ikan (BBI) dan instansi terkait lainnya. Karena asal-usul induk lebih jelas dan cara penyediaannya sudah terprogram, indukan yang berasal dari BBI lebih terjamin kualitasnya. 

Namun, terkadang ketersediaan induk di tempat-tempat itu sangat terbatas. Pasalnya, selain untuk kebutuhan sendiri, balai benih harus menyediakan untuk kebutuhan pembudidaya yang jumlahnya sangat banyak. Sumber sumber induk lainnya yang bisa diandalkan kualitas indukannya adalah para pembudidaya yang sudah diakui oleh instansi pemerintah atau telah dibina oleh balai-balai penelitian. Pembudidaya ini dicirikan dengan adanya sertifikat CBIB dan menerapkan program CBIB (cara budi daya ikan yang baik). 

Berikut beberapa tip dalam membeli induk udang galah dari pembudidaya. Belilah induk dari pembudidaya yang memperoleh 

1. benih calon induk dari instansi penyedia induk udang galah. Belilah induk atau calon induk jantan dan betina dari 

2. sumberinduk (asal) yang berbeda. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari terjadinya perkawinan sekerabat (inbreeding). Bila nantinya kedua jenis induk dari satu keturunan tersebut dipijah, akan terjadi perkawinan sekerabat (inbreeding). Inbreeding dapat berakibat menurunnya kualitas benih yang dihasilkan, yang dicirikan dengan pertumbuhannya yang semakin lambat, tidak tahan pada perubahan lingkungan, dan mudah terserang penyakit. Perlakuan ini bila terus berlanjut dapat berakibat semakin menurunnya kualitas genetik.


d. Menghasilkan Indukan Sendiri

Bagi pembudidaya udang galah yang sudah lama menjalani usaha ini, memperoleh induk tidak harus selalu dengan membelinya. Indukudang galah untuk kebutuhan sendiri bisa diperoleh dari hasil kegiatan sendiri. Dengan begitu, beban biaya usaha bisa berkurang dan dana usaha yang tersedia bisa digunakan untuk hal lain, seperti memperluas lahan atau skala usaha.

Bahkan bila induk-induk yang dihasilkan berkualitas, Anda bisa menjadi salah satu penghasil induk nomor satu di daerah Anda, dan permintaan pun akan terus meningkat. Hal ini merupakan peluang untuk memperoleh keuntungan. Semua tergantung usaha Anda.

Induk dari hasil kegiatan sendiri hanya bisa diperoleh dengan dua cara. Tentu saja, semua itu dilakukan menggunakan induk-induk yang Anda miliki, yaitu induk asal atau induk yang pertama dibeli dari pihak lain dan induk dari keturunan induk asal.

Cara pertama yang bisa dilakukan adalah dengan melakukan backcross, yakni mengawinkan anak dengan ibunya atau anak dengan bapaknya. Inilah cara yang terbaik. Cara kedua adalah mengawinkan antar-anakan udang galah, tetapi bukan dari satu keturunan. Karena itu, setiap pembudidaya harus memiliki setidaknya dua kelompok induk yang berbeda garis keturunannya.

Untuk memperoleh induk yang berkualitas, baik dari hasil backcross maupun hasil mengawinkan antar-anakan, benih hasil budi daya udang galah harus diseleksi secara ketat. Pilih benih-benih yang berkualitas sesuai dengan ciri-ciri yang telah disarankan atau sesuai dengan Standar Nasional Indonesia (SNI). Seleksi ini dilakukan dalam beberapa tahap berikut ini.

Tahap pertama dilakukan pada benih hasil pentokolan, yaitu dengan memilih benih-benih yang pertumbuhannya paling cepat dengan bentuk tubuh normal atau tidak cacat, sehat, tidak memiliki luka, gerakannya lincah, dan merespons terhadap pakan tambahan.

Tahap kedua dilakukan pada benih hasil pembesaran dengan tanda-tanda yang sama seperti yang disebutkan di atas.

Penyeleksian ini dilakukan hingga tahap udang galah menjadi calon induk dengan tanda-tanda yang sama. Dengan cara seperti ini akan didapatkan calon-calon induk berkualitas.

e. Manajemen Induk

Bila seorang pembudidaya telah memiliki induk sendiri, induk-induk itu harus dikelola dengan baik agar masa produktifnya bisa lama, kondisi tubuhnya tetap baik, bisa cepat bertelur lagi, kualitas telurnya baik, dan jumlahnya banyak. Mengelola induk dengan baik dapat dilakukan dengan beberapa perlakuan sebagai berikut.

Pelihara induk-induk tersebut di dalam kolam-kolam khusus. Artinya, pemeliharaannya tidak dicampur dengan ikan atau udang lainnya.

Pelihara induk jantan dan betina secara terpisah, walaupun sebenarnya induk jantan dan betina bisa dipelihara dalam satu kolam. Pemeliharaan induk jantan dan betina secara terpisah sangat membantu perkembangan gonad, karena induk betina tidak terganggu oleh induk jantan.

Pelihara indukan udang yang sudah dipijah di kolam yang berbeda dengan indukan yang belum dipijahkan. Tujuannya untuk membedakan dan memastikan antara indukan yang sudah dipijah dan yang belum dipijah. Selain itu, tentu saja dengan pemisahan ini induk sudah dipijahkan tidak akan terganggu, sehingga gonadnya bisa berkembang dengan baik dan menghasilkan telur yang berkualitas tinggi.

Lakukan teknik pemeliharaan induk dengan baik. Pertama, lakukan persiapan kolam yang baik. Kedua, padat tebar induk tidak terlalu tinggi. Lakukan sesuai dengan yang dianjurkan, yaitu 5 ekor/m2. Ketiga, beri pakan tambahan kepada induk setiap hari dengan dosis 3—5%. Terakhir, jaga kualitas air kolam tetap baik selama pemeliharaan indukan.

B. Benih

Benih udang galah yang dihasilkan dari kegiatan pemeliharaan larva disebut juvenil udang galah. Juvenil udang galah berumur 25—45 hari sejak telur menetas. Ukuran juvenil 8—10 mm dan bobotnya 0,005—0,006 gram.

Kegiatan pemeliharaan juvenil disebut dengan pentokolan. Pentokolan juvenil udang galah dapat dibagi dalam dua tahap, yakni tahap pentokolan pertama dan kedua. Lama pemeliharaan setiap tahap pentokolan adalah 45 hari, dengan total masa pentokolan 90 hari atau 3 bulan pemeliharaan. Benih hasil pentokolan memiliki panjang tubuh 5—7 cm dan berat 1—2 gram setiap ekornya. Jika ukuran tersebut telah tercapai, benih hasil kegiatan pentokolan siap untuk dilanjutkan di kolam pembesaran.

C. Pakan

Sarana produksi lain yang harus disediakan dalam budi daya udang galah adalah pakan. Pakan harus selalu tersedia dalam jumlah yang cukup dan berkualitas. Seperti pada hewan lain, pakan digunakan oleh udang galah sebagai sumber energi, memperbaiki sel-sel yang rusak, pertumbuhan, dan pembiakan (reproduksi). Pakan udang galah bisa berupa pakan buatan, pakan alami, dan sumber pakan lainnya. Pakan untuk induk udang galah sebaiknya mengandung protein 30—40%, sedangkan untuk tahap pemeliharaan lainnya minimum mengandung protein 30%.

komposisi bahan tertentu. Kualitas dan kuantitas pakan buatan induk udang galah sangat penting karena sangat berpengaruh terhadap kualitas dan kuantitas telur yang dihasilkan. Pakan buatan bisa dibuat sendiri atau dibeli di toko unggas (poultry shop). Bahan untuk membuat pakan buatan berasal dari bahan nabati dan hewani. Bahan nabati adalah bahan yang berasal dari tumbuh tumbuhan, seperti dedak halus, tepung daun, tepung jagung, dan tepung kedelai.

Sementara itu, bahan hewani merupakan bahan yang berasal dari hewan seperti tepung tulang, tepung ikan, minyak ikan, dan minyak hati. Selain kedua bahan tersebut, pakan buatan juga harus mengandung gizi yang komplit. Karena itu, dalam pembuatan pakan buatan harus ditambah pula mineral dan vitamin.

Selain pakan buatan, pakan juga bisa berasal dari bahan bahan lain yang tumbuh dan tersedia di sekitar yang dapat dimanfaatkan sebagai makanan udang, misalnya daging keong mas, daging kizing (termasuk molkusca juga seperti tiram/mutiara air tawar), ubi jalar, dan bubuk ikan asin.

D. Pupuk

Pupuk digunakan untuk menyuburkan air kolam. Jika kolam yang subur, akan tumbuh banyak pakan alami yang beragam. Pakan alami tersebut dimanfaatkan terutama oleh benih udang galah sebagai sumber makanan sehingga dapat hidup dengan baik dan tumbuh dengan cepat. Ada dua jenis pupuk yang dapat digunakan, yaitu pupuk organik dan anorganik.

Pupuk organik merupakan jenis pupuk yang berasal dari hewan dan tumbuhan. Pupuk organik mengandung bahan nutrien yang lebih komplit dibandingkan dengan pupuk anorganik. Di samping itu, harga pupuk organik murah dan banyak tersedia di alam. Beberapa macam pupuk organik dari hewan yang sering digunakan, yaitu kotoran ayam, kotoran puyuh, kotoran sapi, kotoran kambing, dan kotoran kerbau. Beberapa macam pupuk organik dari tumbuhan meliputi daun kipahit, petai cina, dadap solo, dadap lut, orok-orok, waru, jarung, kadoya, pingku, dan daun harendong.

Pupuk anorganik adalah pupuk yang dibuat dengan komposisi bahan tertentu. Kandungan nutrien dari pupuk anorganik tidak sekomplit pupuk organik. Contoh pupuk anorganik yang biasa digunakan yaitu urea, TSP, dan NPK. Jumlah pupuk yang harus disediakan tergantung dari luas kolam yang akan dipupuk. Sebagai contoh kolam yang luasnya 1.000 m2 membutuhkan 500 kg pupuk kandang, 25 kg urea, 15 kg TSP, dan 15 kg NPK.

E. Kapur

Sarana produksi lainnya yang cukup penting adalah kapur. Kapur digunakan pada saat persiapan kolam. Pengapuran pada umumnya memiliki beberapa tujuan, di antaranya untuk meningkatkan pH air kolam dan pH tanah, meningkatkan alkalinitas, serta memberantas hama dan penyakit.

Jenis kapur yang umum digunakan, yaitu kapur tohor (CaC03) atau kapur yang biasa digunakan sebagai pencampur bahan bangunan. Kapur dapat diperoleh di toko bahan bangunan. Jumlahnya tergantung kebutuhan. Misalnya, kolam dengan luas 1.000m2 membutuhkan rata-rata 25—50 kg kapur.

F. Obat-obatan

Obat- obatan juga merupakan sarana produksi yang harus disiapkan sebelum proses produksi sebagai tindakan berjaga jaga dan pencegahan. Pasalnya, penyakitterkadang bisa datang secara mendadak dan jika tidak segera ditanggulangi akan berakibat fatal. Tindakan pencegahan akan lebih baik daripada mengobati penyakit yang sudah muncul. Pencegahan dan pengobatan penyakit dalam kegiatan pemeliharaan larva udang galah dapat menggunakan bahan herbal yang ada di sekitar kita, yakni menggunakan daun ketapang yang telah gugur dari pohonnya atau kering. Dosis yang dianjurkan adalah 100—200 gram/m3 atau sebanyak 30—60 lembar daun ketapang kering.